Kalcer

Rayakan 13 Tahun Berkarya, RAFA International Dance School Pukau Penonton Lewat Pertunjukan GROWTH

×

Rayakan 13 Tahun Berkarya, RAFA International Dance School Pukau Penonton Lewat Pertunjukan GROWTH

Sebarkan artikel ini

Co-founder Raya Budaya Nusantara, Tiara, menilai seni pertunjukan menjadi medium efektif untuk mengenalkan nilai-nilai budaya kepada anak muda.

“Raya Budaya percaya bahwa budaya Indonesia itu sangat beragam, sangat banyak, dan yang paling penting sangat indah. Dari situ kita melihat RAFA bisa mengemas budaya Nusantara dan nilai-nilai luhur kita dengan cara yang menyentuh hati generasi muda sekarang,” kata Tiara.

Ia juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi budaya lokal di era digital, ketika budaya pop luar negeri lebih sering muncul di media sosial dan menjadi konsumsi sehari-hari generasi muda.

“Karena yang paling mengkhawatirkan adalah sebenarnya tergerusnya budaya kita sebagai masyarakat Indonesia itu tidak terasa. Anak-anak muda sekarang kalau sedang scroll media sosial pasti banyaknya budaya pop, jadi exposure-nya kita kalah,” ungkapnya.

Dalam pertunjukan ini, simbol pohon besar dihadirkan sebagai representasi akar budaya yang kokoh. Filosofi tersebut menjadi pengingat bahwa identitas bangsa harus tetap dijaga di mana pun berada.

“Layaknya pohon yang akarnya tidak kuat, kalau ada angin kencang atau badai itu akan mudah roboh. Kita harus bangga dengan nilai-nilai itu. Jadi suatu saat jika kita berada di belahan dunia mana pun, kita tetap memegang budaya kita sebagai akar yang kuat,” tutur Tiara.

Selain menyajikan koreografi yang megah, GROWTH juga menghadirkan cerita yang dibawakan para penari muda. Syakura, pemeran Rafa Kecil, mengaku bangga bisa terlibat dalam pertunjukan tersebut setelah melewati proses seleksi yang cukup ketat.

“Senang ya karena bisa berperan jadi karakter utama. Aku audisi pakai video, menari jazz, kontemporer, dan akting,” ujarnya.

Sementara itu, Kirana yang memerankan Rafa Besar mengaku memiliki kedekatan emosional dengan karakter yang diperankannya. Ia merasa kisah Rafa mencerminkan dilema banyak anak muda yang berada di antara modernitas dan tradisi.

“Aku merasa relate banget sama Rafa karena kita sudah di masa modern dan nilai-nilai tradisional kita mulai menghilang. Kadang aku juga suka stuck in between, FOMO mengikuti teman-teman yang sudah modern banget, sementara aku dulu waktu kecil suka main permainan tradisional,” tutup Kirana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *