Popbanget.com – Kalau melihat film-film yang sebelumnya diproduksi Denny Siregar Production, ada kecenderungan untuk menghadirkan cerita dengan konteks yang cukup berat. Film seperti Kupu-Kupu Kertas dan Tanah Runtuh misalnya, tidak hanya membawa penonton mengikuti cerita utama, tetapi juga mengajak memahami konflik dan latar yang lebih luas di baliknya.
Baca Juga: BATARA Punya Cara Sendiri Bercerita soal Sinamot Lewat “Horas Ma Ito”
Kupu-Kupu Kertas bukan sekadar cerita percintaan. Film tersebut turut membawa isu keluarga hingga konflik yang berkaitan dengan sejarah dan situasi politik pada masanya. Banyak lapisan cerita yang berjalan bersamaan, sehingga penonton perlu mengikuti setiap konteks untuk memahami perjalanan para karakternya.

Hal serupa juga terasa dalam Tanah Runtuh. Cerita yang dibangun dengan latar konflik membuat penonton tidak hanya berfokus pada hubungan antarkarakter, tetapi juga perlu memahami situasi yang menjadi bagian penting dari perjalanan cerita. Pendekatan seperti ini memang memberikan ruang untuk cerita yang lebih dalam, tetapi di sisi lain bisa terasa tidak sesederhana film dengan alur yang langsung.
Menariknya, pendekatan tersebut mulai terlihat berbeda ketika Denny Siregar Production menyiapkan film terbaru mereka, EMMY. Film ini justru mencoba membuka cerita melalui sisi yang lebih personal dan dekat dengan penonton. Unsur percintaan menjadi salah satu pintu masuk utama sebelum cerita berkembang ke persoalan yang lebih besar.
Dengan cara seperti itu, penonton bisa lebih dulu terhubung dengan hubungan dan emosi para karakter. Setelah merasa relate dengan cerita personalnya, barulah penonton diajak melihat konteks yang lebih luas. Treatment semacam ini membuat isu yang sebenarnya tetap serius terasa lebih mudah diikuti.

Dalam konferensi pers EMMY pada Maret 2026, Denny Siregar dan sutradara Emil Heradi juga sempat membicarakan pendekatan film yang dikemas lebih lembut. Hal ini menarik jika dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya yang cenderung membawa konteks cerita lebih berat sejak awal.
Lantas, apakah Denny Siregar Production mulai “belok” dari film-film dengan cerita kompleks? Bisa jadi bukan meninggalkan formula lama, melainkan sedang belajar menemukan cara baru untuk menyampaikan cerita. Film dengan isu berat tetap bisa dibuat, tetapi cara mengantarkannya kepada penonton dibuat lebih dekat, relate, dan emosional.
Pada akhirnya, EMMY menjadi menarik bukan hanya karena cerita yang ditawarkan, tetapi juga karena memperlihatkan kemungkinan perubahan cara Denny Siregar Production dalam membangun film. Bukan lagi soal seberapa berat sebuah cerita, melainkan bagaimana cerita tersebut bisa sampai kepada penonton tanpa kehilangan pesan yang ingin disampaikan. Jadi, Denny Siregar kapok bikin film berat? Atau sebenarnya hanya sedang belajar cara menyampaikannya dengan lebih ringan?












