Popbanget.com – Nama Emmy Saelan dan Wolter Monginsidi kembali menjadi bahan perbincangan di media sosial. Kisah perjuangan keduanya menarik perhatian warganet setelah sebuah konten yang mengangkat cerita mereka ramai dibagikan. Di tengah ramainya pembahasan tersebut, perjalanan dua tokoh perjuangan asal Sulawesi Selatan ini juga dihadirkan melalui film layar lebar berjudul EMMY.
Baca Juga: Danilla Riyadi Ubah Candramawa Jadi Parfum, Ingin Pendengar Rasakan Musik Lewat Aroma
Film produksi Denny Siregar Production ini mengangkat kisah Emmy Saelan, seorang perawat sekaligus pejuang perempuan asal Makassar, termasuk perjalanan perjuangannya bersama Wolter Monginsidi. Cerita tersebut dibawa ke hadapan penonton masa kini dengan pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada peristiwa sejarah, tetapi juga hubungan personal dan sisi kemanusiaan para tokohnya.

EMMY dijadwalkan meramaikan The 21st Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang berlangsung di Yogyakarta pada 28 November hingga 5 Desember 2026. Kehadirannya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali sosok Emmy Saelan kepada penonton melalui medium film, sekaligus mengajak generasi sekarang mengenal kisah perjuangan yang mungkin belum banyak diketahui.
Berbeda dari karya-karya Denny Siregar Production sebelumnya, EMMY memberikan ruang lebih besar bagi unsur romansa dan empati. Pendekatan ini menjadi salah satu hal yang menarik dari film tersebut, terutama jika melihat karya rumah produksi itu sebelumnya, seperti Kupu-Kupu Kertas dan Tanah Runtuh.
Dalam pemberitaan salah satu artikel redaksi pada 28 September 2026, Denny Siregar menjelaskan bahwa pendekatan tersebut berkaitan dengan upaya memahami keinginan penonton. Ia menyebut masukan dan dinamika yang berkembang menjadi pertimbangan dalam menghadirkan cerita dengan cara berbeda.
Lihat postingan ini di Instagram
“Kami mendengarkan dinamika dan keinginan penonton,” ujar Denny Siregar melalui salah satu artikel redaksi (28/09/26).
Menurut Denny, EMMY akan lebih banyak mengeksplorasi romansa, empati, dan sisi kemanusiaan dibandingkan berfokus pada konflik, politik, sejarah, serta aksi yang padat. Pilihan ini membuat kisah perjuangan Emmy Saelan tidak hanya disampaikan melalui latar peristiwa masa lalu, tetapi juga lewat pengalaman personal yang membentuk perjalanan hidup para tokohnya.
Pendekatan tersebut juga menjadi salah satu cara untuk mendekatkan cerita sejarah kepada penonton. Sebab, tidak semua orang mengenal secara mendalam sosok atau peristiwa yang diangkat ke layar lebar. Hubungan antarkarakter dan konflik personal dapat membantu penonton memahami alasan di balik tindakan para tokoh, sekaligus merasakan sisi manusiawi dari perjuangan yang mereka jalani.

Kehadiran EMMY di JAFF pun menjadi bagian menarik dari perjalanan film ini. Sebagai festival yang mempertemukan beragam karya dari Indonesia dan Asia, JAFF membuka ruang bagi cerita dengan latar budaya dan sejarah yang berbeda untuk dikenal oleh penonton yang lebih luas.
Melalui EMMY, kisah perjuangan Emmy Saelan dan Wolter Monginsidi kembali diperkenalkan dengan sudut pandang yang lebih personal. Film ini tidak hanya membawa nama dua tokoh tersebut ke layar lebar, tetapi juga menawarkan cara lain untuk mengenal perjalanan mereka. Menjelang pemutarannya di JAFF 2026, menarik untuk melihat bagaimana pendekatan romansa dan kemanusiaan yang diusung film ini diterima oleh penonton.












