31.8 C
Jakarta
Selasa, Juni 9, 2026
spot_img

Mendunia! Jahe Merah Asal Indonesia Kini Jadi Perhatian WHO untuk Standar Herbal Global

PopBanget Indonesia sejak lama telah dikenal di mata dunia sebagai negara yang memiliki kekayaan hayati luar biasa melimpah dengan ribuan spesies tanaman berkhasiat. Potensi besar ini menjadi modal utama bagi Tanah Air untuk bertransformasi menjadi pemain kunci dalam pengembangan industri pengobatan alami yang berbasis pada pengetahuan lokal serta riset ilmiah modern.

Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, menyebut bahwa bangsa ini sudah memiliki fondasi yang sangat kuat dalam mengelola potensi tersebut. Ia menjelaskan bahwa sistem standarisasi yang ada saat ini merupakan bukti keseriusan Indonesia dalam membawa jamu ke level yang lebih profesional dan dapat dipertanggungjawabkan secara medis.

“Ribuan tumbuhan sudah dimanfaatkan sejak zaman nenek moyang. Kita juga sudah punya Farmakope Herbal untuk standarisasi produk. Ini menunjukkan kita punya pengetahuan dan sistem yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” jelas dr. Inggrid dalam sebuah siniar di YouTube.

Salah satu komoditas herbal yang kini tengah naik daun dan menjadi unggulan dalam berbagai penelitian adalah jahe merah yang banyak ditemukan di berbagai pelosok nusantara. Tanaman ini terbukti mengandung senyawa aktif yang sangat baik untuk menjaga kebugaran tubuh serta membantu proses penyembuhan berbagai jenis penyakit kronis.

Pakar kesehatan herbal ini juga memaparkan bahwa kandungan dalam jahe merah memiliki sifat multifungsi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia modern saat ini. “Kandungan gingerol, shogaol, dan zingerone membuat jahe merah bersifat antiinflamasi, antioksidan, antibakteri, dan antidiabetes,” tuturnya menjelaskan hasil studi penelitian.

Meskipun industri herbal di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif, dr. Inggrid mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi kualitas produk agar bisa bersaing di kancah internasional. Kepercayaan konsumen global sangat bergantung pada sejauh mana produk tersebut memenuhi kriteria keamanan dan efikasi yang ketat.

Ia menegaskan bahwa produsen tidak boleh mengabaikan elemen-elemen dasar yang menjadi standar kelayakan sebuah produk kesehatan sebelum dilempar ke pasar. “Produk herbal harus memenuhi tiga aspek: autentisitas, kemurnian, dan mutu. Tanpa itu, produk sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tegas dokter yang aktif mengedukasi masyarakat tersebut.

Selain soal kualitas produk, tantangan besar lainnya adalah membangun sebuah ekosistem yang terintegrasi secara menyeluruh dari proses penanaman hingga ke tangan konsumen. Integrasi ini mencakup pengawasan ketat pada proses pembenihan, budidaya, pascapanen, hingga ekstraksi yang menggunakan teknologi terkini agar kualitas bahan baku tetap terjaga.

Menurut dr. Inggrid, saat ini masih banyak pelaku industri yang bergerak secara parsial sehingga sulit untuk menjaga keberlanjutan dan keterlacakan bahan baku yang digunakan. “Mayoritas industri herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem penuh. Ini yang perlu diperkuat agar daya saing global meningkat,” ujarnya memberikan catatan penting.

Upaya Indonesia untuk membawa herbal lokal ke panggung dunia semakin nyata melalui kunjungan delegasi World Health Organization – International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (WHO-IRCH). Kehadiran organisasi kesehatan dunia ke fasilitas produksi PT Bintang Toedjoe menjadi bukti bahwa standar industri herbal Indonesia mulai diakui oleh komunitas regulator internasional.

Kunjungan strategis ini juga berkaitan erat dengan agenda penyusunan panduan farmakope herbal dunia yang sedang dikerjakan oleh para ahli dari berbagai negara. “Kunjungan WHO–IRCH ke industri yang memanfaatkan jahe merah ini menjadi benchmark dan masukan penting untuk penyusunan farmakope internasional,” kata dr. Inggrid saat mendampingi kunjungan tersebut.

PT Bintang Toedjoe sebagai salah satu produsen farmasi terkemuka telah membuktikan komitmennya dengan mengantongi berbagai sertifikat internasional seperti ISO 9001, 14001, dan 45001. Perusahaan ini juga secara ketat menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam setiap lini produksinya.

Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe, Fanny Kurniati, menyatakan rasa bangganya atas apresiasi dunia terhadap jahe merah yang dikelola melalui kemitraan dengan petani lokal. “Kami bangga jahe merah Indonesia diakui dunia. Dari kebun binaan sampai laboratorium berteknologi tinggi, semangat From Nature to Science selalu kami pegang untuk memastikan keamanan dan khasiat produk kami,” ungkap Fanny.

Pengakuan dari WHO-IRCH ini diharapkan menjadi pemacu semangat bagi seluruh stakeholder industri herbal di Indonesia untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas. Dengan riset yang kuat dan dukungan ekosistem yang mapan, pengobatan herbal nusantara diprediksi akan menjadi tren kesehatan global di masa depan.

Pimpinan perusahaan farmasi ini optimis bahwa kekayaan lokal Indonesia yang dipadukan dengan sains akan membawa dampak besar bagi kesehatan masyarakat dunia secara luas. “Kunjungan ini menjadi kehormatan besar dan motivasi bagi kami untuk membawa pengetahuan lokal yang berbasis sains ke masyarakat global, dimulai dengan jahe merah. Dengan kekayaan hayati, tradisi pengobatan yang kuat, dan riset ilmiah yang terus berkembang, Indonesia siap menjadi pemain penting dalam pengembangan obat herbal dunia,” tutup Fanny penuh semangat.

Related Articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles