Musik

BATARA Punya Cara Sendiri Bercerita soal Sinamot Lewat “Horas Ma Ito”

×

BATARA Punya Cara Sendiri Bercerita soal Sinamot Lewat “Horas Ma Ito”

Sebarkan artikel ini
Foto: Popbanget.com

Popbanget.com – Bagi sebagian masyarakat Batak, urusan sinamot atau mahar pernikahan bukan perkara sederhana. Hal ini bahkan kerap menjadi salah satu pertimbangan besar bagi para doli-doli atau pemuda Batak ketika ingin melangkah ke jenjang pernikahan. Realitas tersebut kemudian diangkat BATARA lewat single perdana mereka, “Horas Ma Ito”.

Grup musik pendatang baru ini mencoba membawa cerita tentang sinamot dengan cara yang lebih ringan. Alih-alih membuatnya terdengar berat, BATARA mengemasnya dalam musik hipdut alias perpaduan Hip Hop dan Dangdut yang enerjik, lengkap dengan sentuhan instrumen tradisional Batak dan lirik dalam tiga bahasa: Indonesia, Batak, dan Inggris.

Baca Juga: Lea Simanjuntak Ajak Pemain Agak Laen Jadi Model Video Musik

“Memang kita angkat lagu ini sesuai realita yang ada. Sering viral soal kenapa orang Batak itu terkenal lama menikah. Karena memang sinamot ini menjadi beban dan perjuangan besar buat doli-doli Batak,” tutur salah satu vokalis BATARA, Zul, dalam konferensi pers peluncuran single perdana BATARA di Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2026).

Foto: Popbanget.com

Tema yang diangkat memang dekat dengan persoalan adat dan kehidupan masyarakat Batak. Namun, BATARA justru ingin menghadirkan sudut pandang yang lebih positif. Musik yang ceria dipilih agar cerita tentang perjuangan mengumpulkan sinamot tidak terasa sebagai sesuatu yang menekan.

Personel BATARA, Beatrix Tampubolon, mengatakan pemilihan nuansa hipdut juga menjadi bagian dari upaya grup tersebut mendekatkan musik mereka dengan pendengar muda. Ide tersebut datang dari sang manajer, Eros, dengan melihat perkembangan tren musik di platform digital seperti TikTok.

Foto: Popbanget.com

“Kita menyemangatinya lewat lagu yang happy, supaya enggak jadi beban saat mengumpulkan mahar. Aransemennya kita buat easy listening dengan irama kopdut karena tren musik sekarang arahnya ke sana, biar bisa masuk ke Gen Z dan Gen Alpha,” jelas Beatrix.

Warna Batak tetap menjadi bagian penting dalam lagu ini. Salah satunya lewat penggunaan taganing, instrumen tradisional Batak, yang berpadu dengan aransemen modern. Penggarapan lirik dan musiknya pun dilakukan secara kolektif bersama tim manajemen dan pembina BATARA untuk menjaga pesan positif yang ingin disampaikan.

Foto: Popbanget.com

Menariknya, BATARA sendiri lahir bukan dari sebuah rencana besar untuk membentuk grup musik. Eksekutif produser sekaligus pembina BATARA, Robinson Tampubolon, bercerita bahwa semuanya bermula pada akhir 2025 ketika ia diminta membentuk sebuah band untuk mengisi acara gereja.

“Awalnya saya comot-comot personel dan kalau ditanya band apa, saya jawab ‘Rojali’ alias rombongan jadi sekali,” seloroh Robinson.

Dari panggung ke panggung, Robinson mulai melihat ada sesuatu yang bisa dikembangkan. BATARA kemudian tampil di sejumlah acara, termasuk Pekan Raya Sumatera Utara dan HUT Kabupaten Toba. Kekompakan para personel serta respons penonton membuat Robinson dan tim semakin yakin untuk membawa grup tersebut ke arah yang lebih serius.

Foto: Popbanget.com

Nama BATARA pun kemudian resmi digunakan. Nama tersebut terinspirasi dari nama putra Robinson, Palti Batara Sakti. Bagi Robinson dan sang istri, Lonata Simanjuntak, yang juga menjadi pembina BATARA, grup ini bukan sekadar proyek musik. Keduanya ingin BATARA menjadi bagian dari regenerasi musisi Batak dan membawa warna musik daerah agar bisa diterima lebih luas.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Pop Banget (@popbangetdotcom)

“Kami ingin menciptakan band Batak yang lagunya bisa dinikmati semua kalangan umur. Bukan sekadar lagu daerah, tapi lagu yang dinyanyikan orang Batak yang bisa menembus skala nasional,” ungkap Lonata.

Ke depan, Robinson bahkan punya gambaran yang lebih besar. Ia berharap perjalanan BATARA bisa berkembang hingga memiliki studio rekaman sendiri. Studio tersebut nantinya diharapkan menjadi ruang bagi musisi muda untuk berkembang sekaligus menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan bagi para pekerja musik.

“Harapan saya, BATARA ini nantinya bisa melahirkan studio sendiri. Dari studio itulah karya-karya terarah bisa lahir, bibit-bibit muda bisa diajak berkembang, dan musisi memiliki sandaran nafkah yang berkelanjutan,” pungkas Robinson.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *