Musik

[Ekslusif] Adrian Yunan Blak-blakan Soal ERK, Royalti, dan Hidup Setelah Tak Bisa Melihat

×

[Ekslusif] Adrian Yunan Blak-blakan Soal ERK, Royalti, dan Hidup Setelah Tak Bisa Melihat

Sebarkan artikel ini
Adrian Yunan saat berbincang santai dengan Popbanget.com

Adrian Yunan berbincang santai bersama Popbanget.com di Kios Ojo Keos. Mulai dari perjalanan solo, album Jalan Keluar, kondisi penglihatannya, kisah awal Efek Rumah Kaca, sampai soal royalti lagu-lagu lama.

Album Jalan Keluar sebenarnya sudah rilis sejak 2025, tapi showcase-nya baru ramai belakangan. Kenapa nih?

Adrian Yunan: Alhamdulillah baik, sehat. Kemarin Pasar Malam sempat showcase di beberapa tempat, di Koma, M Bloc, Coffee War, dan Rumah Dalam Gang di Rawamangun, tempatnya Mbak Reda. Selalu menyenangkan karena biasanya aku suka tempat-tempat yang bisa main dengan mood intimate.

Adrian Yunan saat berbincang santai dengan Popbanget.com

Sejujurnya, waktu rekaman sampai akhirnya rilis, aku belum memikirkan hal-hal lain. Energinya sudah penuh di rekaman sampai rilis, jadi setelah selesai rasanya lega. Baru setelah itu kepikiran, “Ngapain lagi?” Waktu itu produksinya juga aku kerjakan sendiri bersama teman-teman dan belum punya tim produksi maupun manajemen yang benar-benar membantu.

Baca Juga: D’MASIV Bawa “HOME RUN” Keliling Asia, Perjalanan Panjang yang Berujung di Jakarta

Semuanya baru mulai bergerak sejak hearing session di Ojo Keos. Dari situ aku mulai mengumpulkan teman-teman untuk bermain bersama. Memang pergerakannya terasa agak terlambat karena persiapannya cukup lambat. Target awalnya sederhana, setelah tiga tahun proses rekaman, aku cuma ingin album ini selesai, puas, dan lega.

Kalau mundur ke awal, sebenarnya dari mana ide album Jalan Keluar ini muncul?

Adrian Yunan: Jalan Keluar sebenarnya idenya dari teman. Dia sering ikut nongkrong waktu aku rekaman di Merah Studio, tempatnya Reza Hilman. Dari situ kami sering ngobrol.

Awalnya aku menggambarkan bahwa album ini adalah album pertama setelah aku rehat pada 2010. Setelah itu aku sempat merekam album Sintas yang dirilis pada 2017. Praktis aku banyak di rumah karena sedang beradaptasi dengan kondisi fisik dan mata.

Setelah Sintas dirilis, pada 2017 aku mulai jalan-jalan lagi setelah lama sekali di rumah. Dunia terasa baru dan asing buatku sebagai seorang yang tidak melihat. Aku juga melihat banyak fenomena baru di Jakarta. Dari situ muncul ide untuk merayakan fase ketika aku mulai keluar lagi dan merekam hal-hal di luar dengan cara pandangku yang baru.

Setelah lama rehat, apa yang akhirnya bikin Mas Adrian pengin aktif bermusik lagi?

Adrian Yunan: Aku ingin punya semacam perayaan setelah lebih dari lima tahun banyak di rumah. Menggarap album Sintas sebenarnya juga usaha untuk menyiasati kondisi mental. Aku sempat merasa, “Aduh, ini kayaknya kelar kah hidupku?” Tapi ternyata dengan segala tekanan aku masih bisa merilis album dan sempat jalan-jalan.

Baca Juga: for Revenge Hadirkan “I Miss You Every Brand New Day” untuk Film Spider-Man: Brand New Day

Dari situ aku merasa musik masih bisa dilakukan meskipun aku tidak mungkin lagi bermain dalam band dan harus melakukannya sendiri. Aku sempat berpikir musik mungkin tidak bisa aku lakukan lagi.

Setelah rehat sekitar setahun, aku kembali memegang gitar dan membuat draf lagu di rumah menggunakan komputer. Ternyata aku bisa melewati masa-masa itu dengan cara tersebut. Aku merasa musik juga menjadi terapi untukku, tempat untuk melepaskan diri dari tekanan.

Berarti sempat ada masa ketika Mas Adrian kepikiran buat berhenti musik?

Adrian Yunan: Sempat. Kondisiku sudah berbeda. Waktu itu, sekitar tahun keempat setelah aku rehat, anakku lahir. Istriku juga bekerja dan masih ngantor. Aku sempat berpikir mungkin memang Allah menyuruhku mengasuh anak.

Tapi ketika anak mulai besar, aku berpikir lagi. Anakku butuh sosok ayah yang punya spirit fighter, spirit fighting. Lalu aku berpikir, aku mau fighting pakai apa? Akhirnya kembali ke musik lagi.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Pop Banget (@popbangetdotcom)

Dulu aku sempat berpikir, kenapa ketika masih bisa melihat aku belum dikasih anak, tapi justru ketika penglihatanku hilang aku dikasih anak. Ternyata ada maksud di baliknya. Aku jadi punya semangat dan tujuan lagi. Salah satu pemantik terbesar memang anak.

Kalau boleh cerita, kondisi penglihatan Mas Adrian sekarang seperti apa?

Adrian Yunan: Sekarang aku sudah total tidak melihat. Tapi bukan seperti semuanya menjadi hitam. Kalau aku menggambarkannya, seperti abu-abu. Seperti layar, sebagian besar tidak ada bayangan atau cahaya yang tembus, tetapi di bagian pinggir masih ada sedikit bocoran cahaya.

Dalam kondisi sekarang, musik jadi ruang buat Mas Adrian untuk melakukan apa?

Adrian Yunan: Nomor satu, aku bisa menuangkan keresahan dan apa yang aku pikirkan lewat musik. Aku ingin bercerita. Kalau dulu bersama Efek Rumah Kaca kami punya visi bahwa musik mungkin bisa memengaruhi orang atau menjadi pencerahan, sekarang ekspektasiku jauh lebih sederhana.

Aku hanya ingin bercerita, karena aku tidak bisa menulis cerita lewat tulisan, jadi aku menyampaikannya lewat lagu.

Di proyek solo ini, melibatkan Cholil dan Akbar juga?

Adrian Yunan: Sejujurnya kalau aku hitung sisi baiknya, saat menulis lagu aku merasa lebih berani dan tidak ada batasan. Akhirnya aku lebih produktif. Bisa membuat album dua, walaupun dalam jangka waktu yang lama. Buatku itu sudah bagus banget.

Waktu di Efek Rumah Kaca pun aku menulis lagu, tetapi biasanya tidak selesai kalau tidak dibantu teman, seperti Cholil atau Akbar. Kalau dari penulisan lagu dan kerangka besar produksi, sekarang aku kerjakan sendiri.

Di album Jalan Keluar, aku mengajak kolaborasi teman-teman karena salah satu spirit albumnya adalah bertemu teman-teman lagi. Setiap lagu sengaja melibatkan orang yang berbeda sebagai gambaran bahwa aku kembali bermain, bergaul, dan ngobrol dengan orang lain. Pertemuan dengan masing-masing orang itu kemudian aku rekam dalam lagu masing-masing.

Ngomongin masa lalu sedikit, Efek Rumah Kaca awalnya terbentuk gimana sih?

Adrian Yunan: Karena dulu awalnya memang aku dan Cholil berdua. Kami sama-sama punya band yang bubar. Kami satu SMA, satu kelas, satu tongkrongan. Band pertama biasanya kan band yang kita cintai banget. Semua yang kami tahu tentang musik dicurahkan di sana. Tapi tiba-tiba bubar.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Pop Banget (@popbangetdotcom)

Cholil band-nya bubar, aku juga bubar. Kami sempat gabut. Daripada gabut, kami nongkrong berdua sambil gitaran. Awalnya memang cuma gitaran, tidak jelas mau melakukan apa. Tapi ternyata kami sama-sama punya minat menulis lagu, akhirnya ketemu di situ dan mulai menulis lagu bersama.

Setelah bertemu teman-teman yang lain, kami berpikir untuk rekaman. Targetnya sederhana, ingin punya album. Waktu itu aku dan Cholil masih bekerja kantoran. Kalau album itu selesai direkam dan setelahnya kami tidak melanjutkan lagi, rasanya sudah puas karena perjalanan nongkrong kami sudah terdokumentasikan menjadi album.

Kami membayangkan tetap bekerja, tetapi sesekali masih bisa manggung. Ternyata akhirnya justru terbalik.

Lagu-lagu pertama yang Mas Adrian dan Cholil buat bareng apa aja?

Adrian Yunan: Salah satunya lagu lama Hujan Jangan Marah yang ada di album dua. Kemudian Debu-Debu Berterbangan yang ada di album satu. Kalau Balerina, itu sebenarnya lagu band-nya Cholil dulu, tetapi kami aransemen ulang dan garap lagi dengan mood yang baru.

Tiga lagu itu termasuk yang awal dibuat aku dan Cholil ketika kami gitaran berdua di kamar Cholil.

Waktu ERK akhirnya mulai dikenal banyak orang, itu memang sudah sesuai bayangan dari awal?

Adrian Yunan: Sama sekali di luar ekspektasi. Setelah album pertama rilis pada 2007, kami tiba-tiba sibuk banget. Aku bahkan sempat kabur-kaburan dari kantor. Padahal waktu itu aku belum punya rencana keluar dari kantor.

Baca Juga: Lima Lantai, Satu Tujuan: Menemukan Audio yang Paling Pas di DESOUND Melawai

Awalnya terasa seperti beban, tetapi sekarang justru menjadi bonus. Setelah resign, aku merasa mungkin memang jalanku ada di musik. Ketika berjalan dan animonya cukup besar, aku cuma bisa bersyukur. Tidak pernah menyangka lagu-lagu yang kami nyanyikan bisa didengar sebanyak itu.

Kalau dihitung-hitung, berapa lama Mas Adrian bersama Efek Rumah Kaca?

Adrian Yunan: Kalau dihitung dari album pertama yang rilis pada 2007 sampai album Sinestesia pada 2016, sekitar sembilan tahun. Tapi kalau dihitung sejak aku bertemu Cholil dan mulai menulis lagu, seingatku dari 1997. Jadi dari 1997 sampai 2016 kurang lebih 19 tahun.

Berat enggak sih harus melepas sesuatu yang sudah dibangun selama itu bersama ERK?

Adrian Yunan: Berat. Setelah aku tidak bekerja lagi, semua hidupku aku curahkan di situ. Setiap saat bikin lagu, dan di kepalaku lagu itu untuk Efek Rumah Kaca. Tapi setelah merasa semuanya bisa lebih aku siasati kalau berjalan sendiri, rasa berat itu mulai aku lepaskan.

Aku ingin lebih realistis, lebih tenang, dan menjalani semuanya sesuai kondisiku. Sekarang aku senang melihat Efek Rumah Kaca tetap berjalan.

Aku cuma bisa bersyukur karena dulu tidak pernah menyangka musik kami akan didengar banyak orang. Kami hanya punya kemampuan seperti itu, lalu kami rekam. Ketika bermain bertiga pun banyak ruang kosong karena musik kami tidak seperti teman-teman lain yang formasinya lima orang dan terdengar sangat penuh.

Kami hanya melakukan apa yang kami bisa. Kalau ternyata ada orang yang memperhatikan dan menganggapnya menarik, buatku itu bonus.

Nah, ini yang mungkin banyak orang penasaran. Setelah sudah enggak aktif bareng ERK, royalti dari lagu-lagu lama masih masuk?

Adrian Yunan: Masih. Royaltinya masih berasa, justru dari Efek Rumah Kaca. Sebenarnya ada LMK. Tapi pencatatan yang masih rapi justru dari Efek Rumah Kaca, dari teman-teman, dari Cholil.

Kebetulan lagu yang masih banyak didengarkan itu justru dari album pertama, seperti Cinta Melulu, Desember, dan Sebelah Mata. Selama aku ikut menulis lagunya, aku masih mendapatkan royalti.

Kalau dari penampilan ERK sekarang juga masih ada royalti yang diterima?

Adrian Yunan: Ada, performing right. Memang tidak terlalu besar, tapi alhamdulillah. Selama Efek Rumah Kaca masih berjalan, performing right-nya masih terasa. Digital juga terpengaruh karena Efek Rumah Kaca masih konser.

Lagu Sebelah Mata punya cerita yang cukup personal ya. Itu lahir dari pengalaman Mas Adrian sendiri?

Adrian Yunan: Itu sebenarnya lagu yang kami buat lewat jamming bersama, tetapi liriknya memang dari aku. Waktu itu sekitar 2004 atau 2005, aku sudah mulai low vision. Mata kananku sudah hampir low vision. Setelah itu aku praktis hanya menggunakan mata kiri yang masih berfungsi, sampai akhirnya total tidak melihat.

Makanya judulnya Sebelah Mata. Lagu itu merupakan cerita pribadiku tentang bagaimana kondisi penglihatanku pada waktu itu.

Kalau lagu Putih dari album Sinestesia, ceritanya gimana?

Adrian Yunan: Putih dari album Sinestesia. Idenya sebenarnya dari Cholil. Saat menggarap Sinestesia, kami punya banyak lagu yang bingung mau diapakan. Akhirnya muncul ide untuk menyambung lagu-lagu yang berbeda.

Ketika muncul ide menyambung lagu, muncul juga gagasan dari Cholil bahwa setiap dua lagu yang disambungkan harus memiliki tema yang beririsan. Di Putih, ada dua lagu yang sebenarnya bercerita tentang kematian dan kelahiran. Lagu pertama tentang kematian, kemudian lagu kedua tentang kelahiran.

Awalnya aku menulis secara lepas ketika ayah baru meninggal. Bukan langsung menulis lirik, tetapi lebih seperti menuangkan apa yang aku rasakan. Aku merasa ayah masih ada di situ. Kemudian itu kami twist lagi bersama sampai akhirnya menjadi lirik.

Terakhir, setelah perjalanan panjang banget bareng, Cholil itu sosok seperti apa buat Mas Adrian?

Adrian Yunan: Buatku Cholil itu sahabat. Sahabat kental, teman nongkrong, teman tidak pulang ke rumah, teman nginep, dan teman belajar musik. Karena aku belajar bersama dia, dia juga menjadi teman yang banyak menginspirasiku, terutama dalam hal musik.